UMKM Indonesia: Blueberry Guitar Jadi Favorit di Eropa dan Amerika

thesilent1.com – JAKARTA – Nama Wayan Tuges kian nyaring terdengar di Eropa, karena produk Blueberry Guitar dengan ukiran khusus yang terbuat dari kayu berkualitas perpaduan kayu dari Eropa dan Indonesia.

Wayan Tuges adalah seniman pemahat yang tinggal di Gianyar, Bali. Dia mulai membuat gitar, karena ada pesanan dari wisatawan asing yang jatuh hati dengan hasil karya pahatannya. Turis tersebut memberikan tantangan kepada Wayan untuk membuat gitar diukir.

Tanpa pikir panjang, Wayan langsung mengangguk dan mengiyakan pesanan turis asing tersebut. Setelah gitar ukir selesai diproduksi, malangnya, gitar buatan Wayan Tuges ternyata tidak semerdu gitar pada umumnya. Namun, ukiran di gitar membuat pembeli jatuh hati dan memfasilitasi Wayan untuk belajar cara membuat gitar dengan mendatangkan seniman gitar dari Amerika Serikat, Josh Morris.

Wayan Tuges memiliki semangat untuk belajar, untuk membuat alat musik. Dia juga mengajak putranya, I Made Aritanaya dan beberapa anggota keluarga lain untuk ikut membuat gitar. Mereka belajar detail ketebalan, string, fret, ukuran neck, body, bridge, letak lubang suara dan lain-lain.

Fret adalah besi yang melintang di gitar dan ini sangat vital, sebab ini menentukan hasil bunyi nada dari senar yang petik. “Kami belajar membuat gitar selama 2 tahun dan baru berani menjual pada 2007, tepatnya saat ada pameran. Ada beberapa gitar yang terjual,” ungkap Aritanaya kepada Bisnis, Kamis (19/1/2023).

Aritanaya mengatakan bahwa ayahnya kemudian menggunakan uang dari penjualan gitar perdana di pameran menjadi modal , untuk memproduksi gitar ukir baru. Dia mengatakan, kegagalan saat membuat gitar pertama menjadi pelajaran yang berharga dan memotivasi diri agar bisa menghasilkan produk terbaik dari Bali.

Bahan baku untuk membuat gitar bagus ternyata tidak mudah didapat, sebab harus menggunakan kayu maple yang berasal dari Kanada. Saat memulai bisnis gitar ukir secara serius, Wayan Tuges dan Aritanaya menggandeng turis dari Kanada untuk memperoleh kayu-kayu yang bagus.

Nama Blueberry, diambil dari anak turis Kanada, yang juga partner bisnis Wayan dan Aritanaya. Saat awal merintis Blueberry Guitar, mereka memiliki 35 orang karyawan yang siap memproduksi gitar dengan ukiran-ukiran yang unik dan khas Bali.

“Penjualan dilakukan lewat situs eBay, dengan skema pelelangan. Setiap bulan, ada 20 gitar yang dijual melalui eBay. Harga awal US$1, tetapi gitar akan dijual kepada orang yang memberikan harga tertinggi,” tuturnya.

Pembeli gitar ukir di Indonesia masih sangat sedikit. Sebab, hanya pemusik dan orang-orang tertentu yang berniat membeli gitar ukir, karena harganya juga berapa di atas Rp30 juta per produk. Blueberry Guitar lebih memilih memasarkan alat musik petik ini ke luar negeri.

Beruntungnya, digitalisasi dan situs penjualan online sangat membantu pelaku UMKM Blueberry Guitar. Setiap ada pembeli yang ingin mendengar petikan suara gitar yang ingin dibeli, maka tim Blueberry Guitar akan mengirimkan video voice ke pembeli. Cara ini sangat membantu pelaku UMKM untuk menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan memiliki suara yang nyaring.

“Mayoritas pembeli datang dari Kanada, Amerika Serikat, Rusia, Turki, Jepang, Thailand, Australia, dan Singapura. Sebanyak 90 persen pembeli berasal dari luar negeri dan hanya 10 persen dari Indonesia,” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, permintaan gitar ukir tidak seramai saat awal bisnis dibuka. Dia menganalisis ada beberapa penyebab yakni pembeli ingin request ukiran dan gitar Blueberry masuk dalam kategori luxury. Dia juga mengatakan bahwa produk yang dijual berkualitas dan jarang rusak, sehingga repeat order jarang terjadi.

Namun, biasanya bila produk alat musik yang dipakai memiliki kualitas bagus, maka merek tersebut akan dipromosikan oleh penggunanya ke pihak lain. Dia juga pernah mendapatkan orderan dari fans grup band di AS yang ingin memiliki gitar serupa dengan band yang dikagumi.

Aritanaya mengatakan bahwa Blueberry Guitar juga memberikan garansi seumur hidup untuk suara yang dihasilkan oleh gitar asal Gianyar ini. Namun, dengan catatan, rusak bukan karena terjatuh.

Sejak 2007 hingga saat ini, Blueberry Guitar telah memproduksi sekitar 2.000 gitar, terdiri dari 1.900 gitar dijual ke luar negeri dan 100 gitar dijual di Indonesia. Gitar produksi Gianyar ini juga pernah dibeli oleh Golden Earring Band, rapper dari Amerika yakni Michael Franti, Walk off the Earth, dan band asal Thailand.

Secerca Harapan Saat Pandemi

Bak petir di siang bolong, turis Kanada menarik diri dari Blueberry Guitar, karena bisnis lain yang dimilikinya di Kanada sedang dalam gangguan. Lantas, kepergian investor asal Kanada membuat Wayan dan Aritanaya mengalami kesulitan mendapatkan kayu dengan serat bagus dari luar negeri.

“Untuk produk costum, biasanya pembeli memilih jenis kayu yang diinginkan. Kalau kayu maple dan eboni afrika biasanya diimpor, sedangkan kayu mahoni, akasia, cemara, eboni makassar ada di Indonesia. Kami pilih kayu kualitas terbaik, agar menghasilkan nada yang nyaring. Makin tua kayunya, makin nyaring suara yang dihasilkan,” katanya.

Saat partner hengkang, Wayan memutuskan untuk mencari kredit usaha rakyat (KUR) senilai Rp200 juta dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) pada 2020. Baru saja meminjam beberapa bulan, tiba-tiba pandemi melanda sehingga permintaan gitar semakin turun.

Saat pandemi melanda, Blueberry Guitar hanya memiliki 9 orang pekerja, mayoritas berasal dari keluarga yang pernah mendapatkan pelatihan dari seniman gitar dari Amerika Serikat, Josh Morris. Beruntungnya, permintaan gitar tetap ada meskipun hanya 1 atau 2 gitar dalam sebulan.

Tim Blueberry Guitar tetap semangat untuk memproduksi gitar dalam jumlah yang terbatas. Adapun durasi produksi 1 gitar bisa mencapai 2-3 bulan, sebab timnya bekerja dengan hati-hati untuk menghasilkan nada yang nyaring dan ukiran terbaik.

Setelah mendapatkan pinjaman dari BRI, dia juga mendapatkan pelatihan dan workshop agar bisa tetap menjalankan bisnis di tengah pandemi dan diajarkan strategi marketing melalui media sosial. Salah satunya, cara untuk memotret produk agar bagus dan pembeli.

Dia juga mendapatkan kenalan importir dari Jakarta dan memesan beberapa potong kayu maple untuk kebutuhan produksi gitar ukir. “Saat mendapatkan KUR, kami juga mendapatkan workshop UMKM dari BRI. Berguna sekali,” tuturnya kepada Bisnis.

Penyaluran KUR BRI

Sumber: Paparan Akhir Tahun 2022 BRI

Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia, sehingga perlu didorong untuk terus bertumbuh, terutama di masa-masa paceklik, seperti pandemi Covid-19.

Sunarso meyakini bahwa gejolak ekonomi global tidak akan berdampak signifikan terhadap bisnis UMKM di Indonesia. Sebab, UMKM Indonesia relatif tahan banting dari efek ekonomi global.

Perseroan memiliki strategi agar nasabah UMKM bisa naik kelas dan go global. Nasabah UMKM yang telah mendapatkan pinjaman dari BRI akan mendapatkan pelatihan dan workshop yang berkaitan langsung dengan bisnis yang ditekuni, agar bisa diaplikasikan dalam bisnisnya.

Sunarso mengatakan bahwa perseroan akan menjangkau masyarakat hingga ke daerah-daerah, dengan menggunakan proses bisnis yang digital, agar biaya tetap efisien.

Dalam kesempatan sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mewanti-wanti lembaga jasa keuangan khususnya perbankan untuk memacu penyaluran kredit UMKM hingga 30 persen guna mendorong akselerasi akses UMKM ke perbankan.

“Saya meminta kepada bank bahwa angka yang saya sampaikan beberapa tahun yang lalu 30 persen untuk UMKM itu betul-betul bisa terus ditungkatkan,” pungkas Jokowi, dalam pidatonya pada Senin (19/12/2022).

Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa akses UMKM yang notabennya sebagai motor penggerak ketahanan ekonomi nasional, akses pendanaan ke lembaga perbankan baru berada di kisaran 20 persen. Kini pemerintah bersama industri perbankan mulai memberikan perhatian pada bisnis UMKM.