Sukses di Gelaran Pertama, Pinkfong Siap Rilis NFT Baby Shark Berikutnya

thesilent1.com – Pinkfong, perusahaan asal Korea Selatan di balik hit anak-anak “Baby Shark Dance”, sepertinya tidak begitu peduli terhadap gejolak pasar yang terjadi belakangan ini. Mereka tetap tancap gas untuk merilis aset digital berupa non-fungible token (NFT) yang berjudul Baby Shark: Collection No. 2 di kuartal tiga tahun ini.

Pinkfong tampaknya memilki pandangan tersendiri terhadap pergerakan harga NFT. Pasalnya, berkaca pada peluncuran NFT sebelumnya, yang bernama Baby Shark: Collection No. 1, mereka sukses meraup untung besar. Koleksi NFT itu langsung ludes 30 menit setelah diluncurkan.

Koleksi aset digital yang bakal rilis masih menjadi bagian dari keluarga karakter hiu dalam konten Baby Shark Dance. Rencananya, Pinkfong akan menerbitkan sebanyak 10 ribu NFT seni generatif. Nantinya, karakter yang muncul dalam NFT Baby Shark Collection No.2 adalah karakter yang selama ini menghiasi video klip “Baby Shark Dance”; mulai dari Mommy Shark, Daddy Shark, Grandma Shark, Alec alias Grandpa Shark, dan Ollie si Little Baby Shark.

Sebagai informasi, seni generatif sendiri merupakan seni digital yang menggabungkan karya seni secara acak melalui algoritma komputer.

CEO Pinkfong Amerika Serikat (AS), Bin Jeong, mengatakan bahwa dengan kepopuleran karakter Baby Shark, perusahaan berharap dapat memperluas budaya dan IP-nya ke dalam NFT, metaverse, dan industri konten kreatif lainnya.

“Perusahaan berharap dapat memberikan pengalaman baru pada para penggemar Baby Shark,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, NFT Baby Shark Collection No.1 sudah diluncurkan pada Desember tahun lalu dengan tema hologram. Proyek NFT lanjutan ini merupakan buah kerja sama antara Pinkfong dan bursa NFT MakersPlace.

Korea Selatan adalah Rumah Bagi 5,58 Juta Pengguna Kripto

Optimisme perusahaan beralasan. Pasalnya, wilayah Korea Selatan sendiri dikenal sebagai rumah bagi 5,58 juta pengguna kripto di 2021. Jumlah tersebut mencapai lebih dari 10% dari total penduduk di Negeri Ginseng. Dengan tingkat pengguna yang tinggi, Pinkfong percaya diri bahwa penjualan NFT berikutnya akan mengulang kesuksesan yang sama.

Padahal, apabila kita lihat dari sisi regulasi, pemerintah setempat juga tidak sepenuhnya bersikap longgar terhadap para perusahaan kripto. Lebih dari 60 bursa kripto lokal bahkan harus rela tutup lantaran adanya pengetatan aturan terkait lisensi bursa kripto yang harus dipatuhi. Tak ayal, sekitar US$2,8 miliar ringsek akibat penutupan masal tersebut.

Uniknya lagi, jika di beberapa negara adopsi kripto terjadi karena didorong oleh masifnya generasi milenial ataupun generasi Z dalam lingkup investasi, di Korea Selatan pengguna kripto malah berasal dari rentang usia yang beragam. Hampir setengah pengguna di bursa kripto Korea teratas merupakan bagian dari kelompok rentang usia 40-an dan 50-an di tahun lalu.

Di samping itu, lebih dari 30% aktivitas perdagangan kripto dunia didorong oleh Korea Selatan. Melonjaknya harga aset kripto yang terjadi pada tahun 2018 silam juga dipicu oleh masuknya investor di Korea Selatan. Bitcoin, sang jawara dalam kapitalisasi pasar kripto, pun mendapatkan berkahnya. Aset kripto yang dijuluki sebagai “Kimchi Premium” oleh warga setempat itu diperdagangkan jauh di atas harga pasar. Jika satu BTC di harga US$10 ribu, maka orang Korea Selatan berani membayar untuk US$15 ribu per koinnya.

Pimpinan Baru Negeri Ginseng Janjikan Aturan Ramah Kripto

Presiden baru Korea Selatan, Yoon Suk-yeol, dalam janji politiknya sebelum terpilih, mengatakan bahwa ia akan membawa peraturan ramah kripto. Salah satu kebijakannya adalah dengan tidak mengenakan pajak capital gain hingga US$40 ribu.

Dengan adanya regulasi yang tepat dan tarif pajak yang wajar, membuat Korea Selatan berpotensi menjadi salah satu negara idaman bagi industri kripto.