Pantang Ikuti Jejak The Fed, Bank Sentral Cina Janji Tidak Akan Naikkan Suku Bunganya

thesilent1.com – Bank Sentral Cina berusaha untuk menerapkan kebijakan ekspansif yang akan berkontribusi dalam peningkatan ekonominya. Tetapi, di sisi lain, mereka telah memilih untuk menahan diri karena risiko depresiasi yuan. Langkah tersebut juga cenderung bertentangan dengan kebijakan negara lain dalam skala global.

Republik Rakyat Cina akan menjadi negara pengecualian di seluruh dunia. Dengan tidak mengikuti bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), mereka akan mempertahankan kebijakan moneternya sendiri tanpa harus menerapkan langkah perubahan yang besar. Sehingga, negara ini tetap kokoh berpegang teguh pada kebijakan moneternya, terlepas dari kenaikan suku bunga The Fed baru-baru ini.

Pekan lalu, mencuat reaksi dari beberapa bank sentral di seluruh dunia, dengan beberapa analis mengharapkan respons dari pemerintah Cina. Namun, negara yang terkenal sebagai raksasa Asia itu tetap saja tidak tergoyahkan atas pendiriannya.

Tidak bisa dimungkiri, kenaikan suku bunga oleh bank sentral global turut mempersulit Beijing. Terutama dalam hal upaya optimalisasi ekonomi domestik yang kian melemah dengan cara memangkas suku bunga. Oleh sebab itu, penting untuk mempertimbangkan bahwa kebijakan ekspansif ini akan menempatkan Cina pada posisi yang kurang menguntungkan di pasar valuta asing.

Para politisi Cina mewaspadai risiko depresiasi atau penurunan yuan, yang juga berpotensi memicu arus keluar modal. Jika pemerintahnya mulai melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut demi menopang ekonomi yang terguncang hebat akibat Covid-19. Kondisi ini terjadi pada saat pelaku ekonomi utama lainnya melakukan hal yang berlawanan untuk mencegah ancaman inflasi.

Bank Rakyat Tiongkok telah mempertahankan loan prime rate atau suku bunga dasar pinjaman (LPR) satu tahun pada angka 3,70%. Sedangkan, LPR lima tahun sama sekali tidak berubah dan tetap pada angka 4,45%.

Pada tanggal 15 Juni, BPC menyuntikkan 200.000 juta yuan ke sistem perbankannya melalui operasi MLF selama satu tahun dengan tarif yang disebutkan di atas. Nilai 200.000 juta yuan setara dengan 29.839 juta dolar, atau 28.378 juta euro.

Cina Mendesak Upaya Stimulus Ekonomi

Sejak bulan Maret, Cina telah berjuang melawan wabah Covid-19 terburuknya yang terjadi sejak awal tahun 2020. Shanghai, yang merupakan rumah bagi ‘pintu gerbang’ tersibuk di dunia, telah menjadi salah satu wilayah yang paling parah terkena dampaknya.

Kondisi tersebut terjadi setelah Cina mengalami penurunan perdana dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Mengingat invasi Rusia ke Ukraina pada akhir Februari yang semakin memperparah kondisi ekonomi global.

Cina telah terkena dampak besar yang nyata sejak pemberlakuan lockdown di Shanghai. Dengan negaranya menyelesaikan kuartal ini benar-benar di bawah ekspektasi. Parahnya lagi, kebijakan lockdown telah menghentikan sekitar seperempat dari kegiatan produktif di Cina.

Stimulus ekonomi juga telah bergantung pada kebijakan lokal. Seperti langkah yang distrik Shenzhen lakukan, dengan mendistribusikan 30 juta yuan digital dalam bentuk ‘amplop merah,’ melalui program lotere sebagai upaya untuk meningkatkan ekonomi regional yang terkena dampak negatif lockdown.

Tugas ini bahkan bisa menjadi jauh lebih sulit, jika kita menyadari hal itu bertentangan dengan kebijakan bank sentral lainnya di seluruh dunia.

Sebagian besar negara di dunia sedang berjuang tanpa henti untuk menjaga inflasi tetap terkendali, yang masih menjadi masalah global hingga detik ini. Apalagi, di tingkat Republik Rakyat Cina sendiri saja, terdapat beberapa perbedaan yang menonjol.

Otoritas Moneter Hong Kong (HKMA) mewakili puncak dari inkonsistensi ini, setelah memilih untuk secara tegas mengikuti jejak The Fed.

Lembaga ini dianggap sebagai bank sentral ‘de facto’ dari bekas jajahan Inggris, yang kini memiliki status hukum Daerah Administratif Khusus Cina.