Nasib Pilu Orangtua Remaja Pembunuh Bocah Demi Organ di Makassar: Rumah Dibongkar, Susah Dapat Tumpangan

thesilent1.com – Nasib pilu dialami orangtua salah satu pelaku penculikan dan pembunuhan bocah demi organ di Makassar , Sulawesi Selatan. Pasalnya, rumah mereka hancur total dirusak oleh warga yang merasa murka dengan tingkah laku anak mereka.

Orangtua tersangka MF, pasangan Daeng Ambo dan Yasse pun tampak tak berdaya usai kejadian perusakan rumahnya. Mereka mengaku kondisi kehidupannya tidak menentu, bahkan sulit dapat tumpangan karena keluarga mereka tidak bersedia menerima.

“Sekarang pindah, ke rumah kos, keluarga juga tidak mau ada di rumahnya. Kami pasrah dari kejadian ini,” kata Daeng Ambo yang berprofesi sebagai pemulung, Jumat, 13 Januari 2023.

Pria yang berprofesi sebagai pemulung itu juga mengaku kaget atas perbuatan keji anaknya. Dia dan sang istri tak tahu-menahu tentang kejadian itu, sampai akhirnya sang anak dijemput Polisi.

“Kami tidak tahu sama sekali ada apa ini, anakku dijemput polisi. Baru tahu di kantor polisi,” ucap Daeng Ambo yang terlihat linglung usai diperiksa polisi.

“Saya tidak tahu apa yang diperbuat, di kantor polisi baru diberitahu culik anak-anak dan membunuh,” ujarnya menambahkan.

Polisi mengungkap kasus pembunuhan berencana terhadap anak berusia 11 tahun di Makassar , Sulawesi Selatan. Dua orang tersangka berinisial A (17) dan F (14) pun diamankan Polsek Panakkukang Polrestabes Makassar .

Kedua tersangka tega membunuh bocah kelas lima SD tersebut, dan membuang mayatnya di kolong jembatan. Kasi Humas Polrestabes Makassar Kompol Lando menerangkan kejadian bermula saat pelaku menjemput korban menggunakan sepeda motor di tempat perbelanjaan.

“Tersangka A membujuk korban untuk membersihkan rumah dengan menjanjikan upah uang sebesar Rp50.000,” katanya, Selasa, 10 Januari 2023.

Selanjutnya, tersangka A bersama korban menuju rumah F dan merayunya untuk membantu membersihkan rumah. Mereka bertiga pun lanjut menuju rumah A di Jalan Batua Raya.

Setibanya di rumah, A membukakan laptop dan memberikan headset kepada korban, kemudian mencekik korban dari belakang serta membenturkan korban ke tembok sebanyak tiga sampai lima kali. Setelah itu, dia mengikat kaki korban dan memasukannya ke dalam kantong plastik warna hitam dan membuangnya di bawah jembatang Jalan Inspeksi Pam Timur Waduk Nipah-nipah.

Pelaku kasus pembunuhan anak ini pun berhasil diungkap polisi, dan tersangka diringkus oleh anggota Resmob Polsek Panakkukang yang dipimpin oleh Kanit Reskrim Iptu Afhi Abrianto didampingi Panit 1 Reskrim Ipda Ahmad Syamsuri Hajar dan Panit 2 Reskrim Iptu Fahrul dengan membuka CCTV di depan tempat perbelanjaan. Tersangka terlihat menjemput korban menggunakan sepeda motor.

Kini kedua tersangka bersama barang bukti berupa 1 unit handphone merek Vivo Y 15S warna biru dan 1 unit handphone merek Realme 9A warna biru milik A diamankan di Polsek Panakkukang untu menjalani proses hukum lebih lanjut.

“untuk motif masih dalam pendalaman lebih lanjut,” ucap Lando.

Dia juga megimbau kepada masyarakat untuk senantiasa mengawasi keberadaan dan pergaulan anak-anak agar tidak menjadi korban atau pelaku kejahatan.

Polisi mengungkap motif dua remaja di Makassar , Sulawesi Selatan, tega menghabisi nyawa seorang bocah yang masih duduk di bangku kelas lima SD. Ekonomi pun menjadi alasan kuat keduanya nekat melakukan tindak pembunuhan.

Kapolrestabes Makassar , Kombes Pol Budhi Haryanto menuturkan bahwa pengungkapan kasus pembunuhan bocah berusia 11 tahun itu berawal dari adanya laporan masyarakat terkait orang hilang. Namun, setelah diselidiki, anak tersebut ternyata ditemukan dalam keadaan meninggal.

Polisi kemudian melakukan penelusuran lebih jauh mengenai penyebab korban kehilangan nyawa, dan diketahui bahwa dia merupakan korban pembunuhan. Aparat meyakini korban dibunuh oleh seseorang dan jasadnya disimpan di kolong jembatan.

Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap dua remaja yang kini ditetapkan sebagai tersangka, diketahui motif mereka melakukan tindakan keji tersebut. Rupanya, keduanya terobsesi oleh konten negatif di internet mengenai jual beli organ manusia.

“Adapun peristiwa ini saya bagi menjadi tiga aspek, kita lihat dari tiga aspek. Aspek pertama adalah aspek sosiologis, di mana keluarga tersangka ataupun pergaluan tersangka ini diwarnai oleh hal-hal yang negatif,” ucap Budhi Haryanto, Selasa, 10 Januari 2023.

“Contohnya, tersangka mengkonsumsi konten negatif di internet tentang jual beli organ. dari situ tersangka terpengaruh, tersangka ingin menjadi kaya, tersangka ingin memiliki harta. Sehingga muncullah niatnya tersangka melakukan pembunuhan yang rencananya organ dari anak yang dibunuh ini akan dia jual,” katanya menambahkan.

Budhi Haryanto menuturkan bahwa para tersangka terobsesi dari website milik Rusia, Yandex. Namun, karena tidak tahu bagaimana cara mereka mengambil organ korban, keduanya akhirnya mengikat dan membuang jasad korban ke kolong jembatan.

Kemudian dari aspek psikologis, Polisi memastikan akan mendatangkan ahli kejiwaan untuk mengetahui sejauh mana tersangka tega melakukan perbuatan pembunuhan ini.

“Yang ketiga tentunya aspek yuridis, pihak kepolisian sudah mengkonstruksikan pidana ini kita jera dengan pasal pembunuhan berencana, pembunuhan, dan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang ancaman hukumannya, karena ini pelakunya adalah anak-anak, hukumannya dikurangi setengah,” tutur Budhi Haryanto.

“Apabila ini dilakukan oleh orang dewasa, ya hukumannya pasti hukuman mati. Namun karena anak-anak, nanti hakimlah yang akan menyimpulkan karena ada aturan tersendiri dalam persidangan,” ujarnya menambahkan.

Sementara terkait adanya dugaan jaringan penjual organ manusia secara ilegal, dia memastikan tidak ada hal seperti itu. Para pelaku melakukan pembunuhan murni karena motif ekonomi yang dialami keduanya.

“Yang bersangkutan tidak punya jaringan, cuma karena motif ekonomi, yang bersangkutan ingin menunjukkan ke orangtuanya dia bisa mencari uang, maka dilakukanlah perbuatan tersebut,” kata Budhi Haryanto.***