Jaksa Agung New York Minta Investor yang Alami Kerugian dari Perusahaan Kripto untuk Melapor

thesilent1.com – Di tengah crypto winter, beberapa bursa dan perusahaan kripto global tergulung volatilitas harga. Hal itu berdampak pada adanya penguncian akun yang mengakibatkan investor kripto tidak bisa melakukan penarikan dana. Melihat hal tersebut, Jaksa Agung New York, Letitia James, mengeluarkan peringatan agar para investor kripto yang menjadi korban melaporkannya ke Kantor Kejaksaan Agung New York (New York OAG).

Seperti kita ketahui, pasca kehancuran ekosistem Terra, pasar bergerak liar. Lunturnya kepercayaan terhadap aset kripto yang juga dibarengi dengan menurunnya kapitalisasi pasar Bitcoin (BTC) dan aset kripto lainnya membuat pasar terguncang.

Alhasil, beberapa penyesuaian dilakukan untuk tetap melangsungkan bisnis. Mulai dari perampingan struktur pegawai, hingga menghentikan penarikan dana yang berpotensi membuat bisnis terjatuh semakin dalam.

Contohnya, seperti aksi Celcius, Voyager Digital dan Zipmex yang menghentikan penarikan dana secara sementara lantaran pasar bergerak secara liar. Selain itu, bursa kripto global Coinbase merampingkan jumlah pegawainya dengan melakukan pemecatan terhadap 18% stafnya atau lebih dari 1.000 orang.

Tidak ketinggalan, Bitpanda dan Bybit juga melakukan hal serupa. Masing-masing perusahaan menghentikan proses kerja untuk 730 dan 600 karyawan selama periode crypto crash.

Tertarik Mendengar Sudut Pandang Investor Kripto yang Jadi Korban

Melihat hal tersebut, James mengungkapkan banyak bisnis cryptocurrency yang telah membekukan penarikan, mengumumkan PHK massal, atau mengajukan kebangkrutan.

Sementara investor dibiarkan dalam kehancuran finansial, sebagai bagian dari pekerjaan investigasi yang sedang berlangsung dari Kantor Kejaksaan Agung New York, pihaknya tertarik untuk mendengarnya secara langsung dari investor yang menjadi korban.

“Mereka yang mengalami penguncian akun atau yang telah ditipu terkait investasinya di aset kripto, sangat dianjurkan untuk melaporkan masalahnya ke Kantor Kejaksaan Agung,” katanya.

Lebih lanjut, James mengatakan pekerja yang bergerak di industri kripto dan mengetahui hal adanya pelanggaran juga ia dorong untuk melakukan pelaporan. James menjamin keamanan pelapor dengan membuat identitas sang pelapor sebagai anonim.

Dia menilai hal itu perlu dilakukan, setelah melihat turbulensi yang terjadi dalam industri kripto. Banyak investor yang dijanjikan pengembalian dana, namun pada akhirnya yang terjadi malah raibnya dana simpanan di dompet kripto mereka.

Ratusan Miliar Dolar Lenyap dari Pasar dalam Beberapa Bulan

Dalam beberapa bulan, ratusan miliar dana investor lenyap lantaran terjadinya crypto crash. James menaruh fokus pada korban dari devaluasi mata uang TerraUSD (UST) dan LUNA agar segera melapor dan mendapatkan perlindungan dari Biro Perlindungan Investor OAG.

Selain itu, korban pembekuan dana dari platform staking kripto, seperti Anchor, Stablegains, Voyager, dan Celcius sangat ia anjurkan untuk menghubungi OAG.

“Setiap warga New York yang yakin bahwa mereka adalah korban dari perilaku curang atau menipu juga harus berbagi pengalaman mereka dengan OAG,” tambahnya.

SEC Masih Terus Menyelidiki Kasus Terra

Khusus untuk kasus Terra, Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) sampat saat ini masih terus menyelidiki penyebab runtuhnya stablecoin yang nilainya dipatok terhadap dolar AS (USD) tersebut. Pihak SEC masih mencari fakta untuk membuktikan apakah terdapat pelanggaran dalam kasus Terra.

Sampai saat ini, ada beberapa teori terkait penyebab kehancuran Terra. Salah satunya menyebutkan penyebab runtuhnya ekosistem Terra adalah karena transaksi yang dilakukan oleh dua trader.

Semuanya berawal pada tanggal 7 Mei lalu. Kala itu, Terraform Labs menarik 150 juta UST dari liquidity pool berbasis Curve, yaitu 3pool. Operasi jumbo tersebut ternyata meningkatkan volatilitas harga. Selang 13 menit kemudian, seorang trader besar melihat celah itu dan memperdagangkan 85 juta UST untuk USDC. Tujuannya adalah untuk meningkatkan volatilitas.

Tidak berhenti di situ, satu jam berikutnya, pedagang lain mengubah 100 juta UST menjadi USDC. Transaksi tersebut terpecah menjadi 4 kali transaksi berjenjang, yang pada akhirnya juga meningkatkan volatilitas.

Melihat hal tersebut, Terraform Labs menarik lagi 100 juta UST dari 3pool guna “menyeimbangkan” proporsi UST terhadap stablecoin lainnya. Namun, transaksi besar sebelumnya dan beberapa transaksi kecil yang dilakukan sudah lebih dulu merusak keseimbangan UST dengan dolar AS.