Iran Luncurkan Proyek Percontohan Mata Uang Digital Crypto-Rial

thesilent1.com – Pengembangan central bank digital currency (CBDC) di banyak negara menunjukkan pergerakan yang agresif. Data Bank for International Settlement (BIS) menyebutkan 86% bank sentral di tingkal global secara aktif terus melakukan penelitian terkait CBDC. Munculnya pandemi Covid-19 membuat pergeseran pola transaksi yang akhirnya berimplikasi pada perubahan pola pembayaran. Salah satu negara yang sukses memiliki mata uang digital baru-baru ini adalah Iran.

Negeri yang dipimpin oleh Presiden Ebrahem Raisi itu mulai meluncurkan proyek percontohan mata uang digital yang dinamakan Crypto-Rial. Central Bank of Iran (CBI) menegaskan bahwa tujuan dari penerbitan mata uang digital adalah untuk mengubah mata uang fiat yang selama ini berbentuk kertas menjadi mata uang digital yang bisa diprogram.

Meskipun mengalami transformasi, CBI mengaku tetap menjadikan keamanan sebagai prioritas utama. Maklum saja, selain berfungsi sebagai alat pembayaran, mata uang baik itu berbentuk fisik ataupun digital juga menjadi simbol bagi kedaulatan suatu negara.

“Crypto-Rial telah dirancang untuk mudah dilacak. Bahkan, jika data pada smartphone penggunanya mengalami peretasan, pelacakan itu tetap dapat dilakukan,” jelas CBI.

Lebih lanjut dijelaskan, kemunculan mata uang digital ini akan menjadi jenis baru bagi mata yang nasional Iran. Namun, CBI mengakui bahwa penerapan teknologi yang digunakan berbeda dengan sistem mata uang kripto yang bersifat anonim. Crypto-Rial tidak dimaksudkan untuk bersaing dengan mata uang kripto, seperti Bitcoin dan jenis lainnya. Sistem yang diadopsi juga akan transparan dan sesuai dengan aturan anti-pencucian uang (AML).

Langkah Iran dalam mengadopsi teknologi blockchain untuk pemanfaatan mata uang digital patut diapresiasi. Pasalnya, mereka masuk dalam salah satu negara yang mengalami sanksi ekonomi Amerika Serikat (AS). Oleh karena itu, keran impor di hampir semua sektor ditutup bagi mereka. Atas hal itu, mau tidak mau Iran pun mulai akrab dan mengadopsi teknologi blockchain demi bisa tetap memutar roda perekonomiannya.

Dipatok 1:1 dengan Mata Uang Iran

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Crypto-Rial akan dipatok dengan rasio 1:1 terhadap mata uang asli Iran, yaitu rial. Hal ini dimaksudkan agar mata uang digital mereka memiliki nilai yang sama dengan mata uang fiat. Selain itu, ini sekaligus sebagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai mata uang.

Proyek yang sudah direncanakan sejak lama ini mendapatkan apresiasi dari banyak pejabat. Pasalnya, dengan masuk ke ranah digital, pemerintah bisa lebih leluasa untuk meningkatkan kontrol terhadap mata uang nasional dan juga penggunanya. Dari hasil analisa data yang dikumpulkan, berbagai peluang baru juga bisa ditawarkan pada beragam jenis pelaku keuangan untuk mendongkrak ekonomi.

Namun, seperti layaknya hal baru, mata uang digital juga tidak pernah bisa luput dari kontroversi. Beberapa penggiat kripto lokal justru berpandangan bahwa dengan adanya mata uang digital Iran akan mengancam sisi privasi dan juga keamanan keuangan para penggunanya.

Membedah Teknologi di Balik Crypto-Rial

Mata uang digital Crypto-Rial akan berjalan di platform yang disebut sebagai Borna. Proyek yang dikembangkan lewat Hyperledger Fabric ini merupakan platform blockchain yang bersifat open-source yang didirikan oleh IBM.

Berbeda dengan teknologi blockchain yang diadopsi aset kripto, Borna meurpakan platform distributed ledger technology (DLT) yang diizinkan oleh CBI. Sehingga, bank sentral Iran tetap memiliki kuasa untuk memutuskan entitas mana yang bisa mendapatkan akses. Dengan skema ini, bank sentral mampu memilih beberapa bank untuk memelihara dan memperbarui DLT jaringan.

Adapun proses untuk mendapatkan Crypto-Rial adalah dengan menukarkan rial yang dimiliki masyarakat, baik itu dalam berbentuk tunai atau yang ada di rekening, dengan mata uang digital yang akan langsung dikirim ke dompet digital yang ada di ponsel.

Salah satu pengembang Borna, Saeed Khoshbakht, menambahkan bahwa Borna merupakan proyek pertama yang dikembangkan oleh Iran. Lewat pengembangannya, Khoshbakht percaya diri dapat menarik proyek keuangan lain di masa depan untuk kemudian diintegrasikan ke dalam satu ekosistem.

“Jika berjalan lancar, Borna juga bisa digunakan untuk membuka peluang bagi bank dan perusahaan fintech untuk mendapatkan akses ke pendapatan berbasis pembiayaan baru,” tuturnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram Be[In]Crypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!