HAUS! Masuk Dunia Digital, Ikut Ramaikan Jagat Metaverse Besutan WIR Group

thesilent1.com – Merek jaringan minuman kekinian asli Indonesia HAUS! bakal meramaikan jagad metaverse yang tengah dibangun oleh WIR Group. Kedua belah pihak sudah menandatangani nota kesepahaman untuk bersama-sama mengembangkan bisnis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) retail di era digital.

HAUS!, yang berada di bawah naungan PT. Inspirasi Bisnis Nusantara, bakal melengkapi ekosistem digital yang tengah dikembangkan oleh WIR Group. CEO HAUS!, Gufron Syarif, mengatakan masuknya HAUS! ke metaverse sesuai dengan prinsip perusahaan yang selalu relevan terhadap perkembangan zaman.

“Kehadiran HAUS! di dunia metaverse akan menjadi poin strategis perusahaan untuk menjadikan HAUS! sebagai salah satu pemain di industri food & beverage yang inovatif,” katanya dalam siaran pers.

Gufron menjelaskan lebih lanjut, dengan hadir di metaverse, akan mempermudah konsumen untuk mengenal perusahaan lebih dalam tanpa terikat batas ruang dan waktu; mengingat metaverse adalah ruang virtual yang menggabungkan augmented reality dan virtual reality. Dengan begitu, setiap orang bisa datang ke gerai HAUS! kapan saja.

Untuk itu, perusahaan juga akan memanfaatkan metaverse sebagai wadah guna meningkatkan hubungan dengan masyarakat. Beberapa event bakal meluncur di metaverse demi membangun engagement dengan khalayak.

Sementara itu, Chief Sales and Marketing Officer WIR Group, Gupta Sitorus, menambahkan perusahaan sangat mendukung kehadiran HAUS! sebagai UMKM rintisan lokal di metaverse. Pasalnya hal tersebut merupakan salah satu upaya percepatan transformasi digital UMKM agar bisa beradaptasi di era digital.

“Hal itu akan memperkaya ekosistem metaverse Indonesia dan mendorong terwujudnya ekonomi digital serta pertumbuhan ekonomi kreatif,” tambahnya.

Dengan metaverse, para pelaku UMKM dapat pula melakukan interaksi virtual realistik dengan konsumen dengan bentuk dan format yang tidak terbayangkan.

HAUS! Baru Kantongi Pendanaan Seri B

HAUS! menyasar segmen masyarakat kelas C sebagai target pasar utamanya. Dengan begitu, perusahaan bisa menjadi berbeda dengan perusahaan rintisan sejenis, yang kebanyakan mengejar target pasar menengah ke atas.

Hingga 2020, HAUS! berhasil menjual 2 juta cups per gelas dan menghasilkan pendapatan sebesar Rp20 miliar per bulan. Dengan harga jual mulai dari Rp5.000 sampai dengan Rp25.000, produk mereka pun bisa dengan mudah diterima pasar.

Bisnis HAUS! kian agresif setelah mendapatkan suntikan modal dari investor. Tahun 2020 lalu, HAUS! berhasil mengantongi pendanaan seri A sebesar US$2 juta dari BRI Ventures. Konsep bisnisnya yang unik menjadikan BRI Ventures, lewat Dana Ventura Sembrani Nusantara, percaya diri terhadap bisnis yang diusung HAUS!.

Sejak mendapat suntikan dana, HAUS! sukses mencatatkan pertumbuhan jumlah outlet sebanyak 120% sejak 2021 yang tersebar di Pulau Jawa. Tahun ini perusahaan berambisi untuk melanjutkan ekspansinya ke wilayah Bali.

Sampai dengan akhir tahun lalu, penjualan HAUS! melonjak 54,5% dari US$11 juta di 2020, menjadi US$17,53 juta di akhir tahun lalu. Kuat dugaan karena kinerjanya yang moncer jugalah, beberapa angel investors dan venture capital regional, seperti Strategic Year Holdings dan Atlas Global Ventures, tertarik untuk masuk dalam pendanaan seri B1.

Wakil Ketua MPR RI Minta Waspadai Penggunaan Metaverse

Di tengah booming dunia virtual, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Ahmad Basarah, mengingatkan penggunaan metaverse yang bisa digunakan untuk beragam hal. Menurutnya, jika di metaverse pengguna bisa bekerja, bermain, berbelanja atau melakukan aktivitas lainnya; artinya kegiatan apa pun bisa dilakukan di ruang virtual tersebut, termasuk tindakan yang ‘mengancam’.

“Siapa berani menjamin metaverse tidak digunakan sebagai ‘ruang terbuka maya’ untuk menyebarkan ideologi transnasionalisme?” Tanyanya.

Lebih lanjut, Ahmad Basarah mengatakan bahwa banyak peneliti dan ilmuwan mengingatkan tentang munculnya persoalan-persoalan yang jauh lebih besar di dunia digital dengan kehadiran metaverse. Salah satunya adalah menjadikan metaverse sebagai markas kelompok teroris di masa depan akibat interaksi yang lebih nyata dengan peraturan perundang-undangan yang masih sangat longgar.

“Di era media sosial konvensional saja penyebaran ideologi baru yang bertentangan berlangsung masif, bisa dipastikan era metaverse yang memungkinkan terjadinya interaksi fisik secara maya membuat persoalan ideologis menjadi lebih besar lagi,” pungkasnya.