Hadapi Proses Likuidasi, Co-Founder 3AC Dituduh Tidak Mau Bekerja Sama & Keberadaannya Tidak Diketahui

thesilent1.com – Pengadilan mengabulkan dengar pendapat darurat dari para kreditur Three Arrows Capital (3AC); seiring para pendirinya, yaitu Su Zhu dan Kyle Davies, dituduh tidak mau bekerja sama terkait proses likuidasi hedge fund kripto itu.

Dalam dokumen pengadilan yang diajukan pada hari Jumat (8/7) di New York, pengacara yang bertindak atas nama kreditur mengatakan bahwa para pendiri dana lindung nilai kripto itu belum mulai bekerja sama dengan persidangan dengan cara apa pun yang berarti. Adapun, sidang pengadilan dijadwalkan pada hari Selasa (12/7) pagi waktu setempat.

Menurut pengajuan kebangkrutan 3AC pada 1 Juli 2022, perusahaan itu mengelola aset lebih dari US$3 miliar per April 2022. Para kreditur menilai bahwa aset dana yang tersisa dari 3AC bisa saja ditransfer atau ‘dibuang’ ke tempat tersembunyi, sebelum para kreditur bisa mendapatkan haknya.

3AC Alami Likuidasi, namun Keberadaan Para Co-Founder Tidak Diketahui

Pengacara yang terlibat dalam proses likuidasi 3AC di pengadilan British Virgin Islands (BVI) ingin tahu di mana keberadaan Su Zhu, yang berperan sebagai CEO 3AC, dan Kyle Davies, yang mengisi posisi Chairman 3AC. Pasalnya, sejauh ini keduanya belum kooperatif dalam proses tersebut dan lokasi mereka saat ini tidak diketahui.

Pengacara para kreditur mengatakan bahwa orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai Su Zhu dan Kyle Davies hadir dalam panggilan Zoom awal, tetapi video dan audio mereka dimatikan. Co-founder 3AC juga tidak menanggapi pertanyaan yang diajukan langsung kepada pengacara para kreditur, dengan hanya perwakilan hukum mereka yang menjawab pertanyaan.

Selain itu, pengacara para kreditur yang mengunjungi kantor 3AC di Singapura menemukan bahwa kantor itu telah ditinggalkan, menurut dokumen pengadilan. Muncul desas-desus yang belum dapat dipastikan kebenarannya bahwa Su Zhu dan Kyle Davies telah meninggalkan Singapura.

Meminta Daftar Aset yang Dimiliki 3AC

Kekhawatiran meningkat bahwa aset milik 3AC yang sebagian besar dalam bentuk uang tunai, kripto, dan non-fungible token (NFT), dapat dengan mudah ditransfer.

Kekhawatiran ini sebenarnya memiliki dasar. Pasalnya, dana NFT 3AC yaitu ‘Starry Night Capital’ dikabarkan telah ditransfer ke crypto wallet baru dengan alasan yang tidak dapat dijelaskan.

Selain itu, PeckShield, perusahaan keamanan blockchain, melaporkan pada 5 Juli 2022 bahwa 3AC telah mentransfer stablecoin Tether USD (USDT) dan USD Coin (USDC) senilai puluhan juta ke crypto exchange KuCoin.

Kini, para kreditur berusaha untuk membekukan aset 3AC. Namun pertama-tama, mereka meminta kepada pengadilan untuk memaksa para pendiri 3AC untuk memberikan daftar aset yang dimiliki oleh hedge fund kripto itu.

Mereka juga meminta pengadilan untuk memanggil para pendiri 3AC dan memberikan daftar aset 3AC, termasuk crypto wallet yang dikendalikan, rekening bank, aset digital yang mereka miliki, berbagai kontrak derivatif, sekuritas, piutang, serta semua catatan perusahaan.

Kehancuran 3AC Sengsarakan Banyak Pihak

Sebelumnya, Blockchain.com menjadi pihak terbaru yang mengungkapkan bahwa mereka akan kehilangan US$270 juta (Rp4 triliun) dari pinjaman yang diberikan kepada 3AC.

3AC mengalami kehancuran berkat kombinasi dari anjloknya market kripto dan manajemen risiko yang buruk, hingga memicu banyak perusahaan kripto, khususnya crypto lending, mengalami krisis karenanya.

Sejumlah perusahaan kripto termasuk BlockFi, Voyager, Genesis, FTX, Deribit, hingga BitMEX dilaporkan memiliki eksposur pada krisis yang dialami 3AC. Hal ini terjadi setelah 3AC gagal memenuhi margin call dari sejumlah pemberi pinjaman untuk menambah dana tambahan setelah berbagai ‘taruhan’ kriptonya terpukul di tengah crypto winter.

Adapun pengadilan di BVI telah membuat perintah likuidasi 3AC pada 27 Juni 2022, serta menunjuk perusahaan consulting & advisory untuk menangani proses tersebut. 3AC juga telah mengajukan kebangkrutan Bab 15 (Chapter 15 bankruptcy) di New York pada 1 Juli 2022.