Gejala dan Penyebab Konstipasi pada Anak, Orangtua Perlu Tahu

thesilent1.com – Anak yang sulit atau jarang BAB perlu dicurigai mengalami konstipasi atau sembelit. Kenali gejala dan penyebab konstipasi pada anak untuk menghindari kondisi ini.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak yang mengalami konstipasi atau sembelit kesulitan dalam defekasi atau mengeluarkan tinja.

Sebagian besar konstipasi pada anak bukan disebabkan karena kelainan organik. Karena itu, kondisi pada anak ini disebut dengan konstipasi fungsional.

Konstipasi pada anak jamak terjadi ketika mereka mengalami perubahan fase makan yaitu:

  • Si kecil mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI)
  • Perubahan dari ASI ke susu formula atau sufot ke susu UHT

Gejala konstipasi pada anak

Anak yang mengalami konstipasi atau sembelit, umumnya mengalami beberapa gejala berikut:

  1. Frekuensi buang air besar dua kali dalam seminggu atau kurang dari itu
  2. Feses atau tinja keras
  3. Feses terlalu besar yang menandakan si kecil menahan BAB
  4. Rasa sakit atau nyeri ketika buang air besar
  5. Cepirit atau mengeluarkan cairan tinja satu kali dalam seminggu

Penyebab konstipasi pada anak

Penyebab utama konstipasi pada anak yaitu adanya riwayat trauma saat buang air besar, seperti:

  1. Rasa sakit akibat susah mengejan atau tekstur tinja yang terlalu keras
  2. Takut ke toilet: si kecil pernah melihat kecoa atau kondisi WC yang jorok
  3. Kesalahan dalam toilet training: anak dipaksa BAB di WC dengan ancaman, toilet training terlalu dini
  4. Distraksi saat akan buang air besar: keluarga justru menggoda atau cenderung mengejek anak, anak lebih mengutamakan bermain ketimbang fokus mengejan.

Selain itu, konstipasi juga bisa disebabkan karena masalah yang lebih kronis, seperti:

  1. Penyumbatan di usus besar atau rektum
  2. Masalah pada otot pembuangan
  3. Kondisi yang memengaruhi hormon tubuh
  4. Masalah pada saraf di sekitar usus besar dan rektum.

Kapan perlu ke dokter?

Konstipasi atau sembelit pada anak dapat diatasi dengan memberikan asupan cairan dan serat yang cukup pada menu makanan mereka.

Selain itu, penting pula untuk mencari penyebab anak stres sehingga sulit buang air besar.

Orangtua juga dapat mengajak si kecil untuk memulai toilet training. Namun, jika cara tersebut tidak berhasil, orangtua perlu mengajak si kecil ke dokter spesialis anak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.