Binance Bidik Volume Perdagangan Setara dengan Tahun Lalu

thesilent1.com – Binance, salah satu bursa kripto terbesar di dunia, terlihat konservatif dalam menatap kinerjanya di tahun ini. Perusahaan yang berbasis di Cayman Island itu hanya berambisi untuk mencapai angka volume perdagangan sama dengan tahun 2021 lalu, yakni sebesar US$34 triliun.

Hal itu disampaikan oleh founder sekaligus CEO Binance, Changpeng Zeng (CZ) dalam acara Vivatech Conference di Paris. Tingginya volatilitas harga di pasar kripto sepertinya menjadi salah satu alasan bagi perusahaan untuk tidak tampil secara agresif.

“Sejauh ini, tahun ini kami hampir sama [dengan tahun lalu],” katanya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, sampai dengan 15 Juni kemarin volume perdagangan perusahaan berada di kisaran US$120 miliar. Berdasarkan data Statista, Binance masih menduduki posisi puncak untuk volume perdagangan harian kripto.

Volume Perdagangan Binance Masih Unggul

Binance merajai platform perdagangan kripto, dengan merengkuh volume perdagangan sebesar US$25,51 miliar dalam 24 jam. Berada di posisi kedua adalah Deepcoin, yang mencapai volume transaksi sebesar US$8,6 miliar. Kemudian, posisi ketiga ditempati oleh TOKENCAN yang sebesar US$6,71 miliar dan FTX di peringkat kempat sebesar US$5,14 miliar.

Binance pernah mencapai volume perdagangan harian secara fantastis, yakni ketika berhasil mencapai US$76 miliar di tahun 2021 lalu. Volume perdagangan tertinggi Binance dalam satu tahun terus menunjukkan peningkatan.

Dulu, pada tahun 2017, volume perdagangan puncak Binance dalam 1 hari hanya mencapai US$3 miliar. Pencapaian itu lalu naik menjadi US$19 miliar di tahun 2018. Tingginya tingkat adopsi kripto di dunia juga ikut mendorong volume perdagangan puncak perusahaan. Karena di tahun 2020, volume perdagangan puncak Binance kembali melesat ke level US$35 miliar.

Getol Perkuat SDM di Tengah Crypto Winter

Meski begitu, perusahaan mengaku bahwa tengah agresif dalam menambah sumber daya manusia (SDM). CZ menuturkan, perusahaan bahkan tengah merekrut 2.000 tenaga kerja baru untuk memperkuat bisnis mata uang virtualnya.

Hal tersebut bertentangan dengan kondisi kebanyakan bursa kripto lainnya yang justru melakukan pemangkasan karyawan.

“Tidak mudah untuk mengatakan tidak pada iklan Super Bowl. Hari ini, kam merekrut 2.000 posisi terbuka untuk #Binance,” tambahnya.

Seperti Coinbase Global, misalnya, yang mengaku akan memangkas 1.100 pekerja. Jumlah itu mencapai 18% dari total tenaga kerja perusahaan. Selain itu, BlockFi dan juga Crypto.com juga ikut melakukan perampingan dalam struktur karyawannya demi menggenjot efisiensi.

Sementara itu Binance.US, terlihat percaya diri untuk menghadapi gejolak pasar kripto yang terjadi belakangan ini. CEO Binance.US, Brian Shroder, menuturkan bahwa perusahaan dalam posisi terkuat untuk muncul sebagai bursa kripto terbesar di AS.

Saat ini, perusahaan memiliki pendanaan sekitar US$250 juta yang bisa digunakan untuk mengakselerasi bisnis kripto di Negeri Paman Sam. Binance.US berambisi untuk melipatgandakan jumlah tenaga kerjanya di tahun ini.

Menurut laporan Be[In]Crypto, perusahaan baru saja mendapatkan putaran pendanaan dari luar perusahaan di bulan April kemarin. Dana segar tersebut merupakan pendanaan eksternal pertama yang diterima oleh perusahaan. Beberapa investor yang berpartisipasi dalam pendanaan tersebut adalah RRE Ventures, Foundation Capital, Original Capital, VanEck, dan Circle Ventures. Kucuran dana tersebut membuat valuasi perusahaan membengkak menjadi US$4,5 miliar.

Untuk diketahui, Binance.US mengklaim bahwa mereka bukanlah entitas usaha ataupun afiliasi perusahaan dari Binance. Binance.US diluncurkan sebagai badan berkekuatan hukum independen di tahun 2019 dan memiliki keterikatan dengan Binance lewat perjanjian lisensi.