Begini Rasanya Melewati Jalan Tol Jakarta-Cikampek Elevated II yang Bergelombang

thesilent1.com – Jalan tol Jakarta-Cikampek elevated II resmi dibuka. Membentang dari KM 9 hingga KM 48 dan tak punya gerbang keluar di tengah. Bisa dipakai gratis hingga sebulan. Kendaraan melintas hanya dibolehkan golongan I, non-bus dan non-truk. Kecepatan mobil dibatasi, minimal 60 km/jam sementara batas maksimal 80 km/jam. Masih ada perbaikan di sejumlah titik dan konturnya sangat bergelombang.

OTO.com melewati itu menggunakan kendaraan kompak SUV, dengan bobot kendaraan 1.175 kg, diisi dua penumpang. Konfigurasi suspensi mobil pakai McPherson strut plus stabilizer di roda depan. Kemudian model 4 link dengan batang lateral di roda belakang. Soalnya ini berpengaruh terhadap redaman guncangan. Begitu masuki KM 9, jalanan tak rata sudah terasa.

Di media sosial banyak beredar soal foto jalanan yang keriting. Beberapa mengonfirmasi, gambar yang diambil menggunakan lensa tele (70-200 mm). Singkat cerita, itu berakibat jalan yang dipotret terasa berdekatan dan menimbulkan efek gelombang. Namun bila menggunakan mata telanjang dan mencoba langsung, bisa terlihat jelas. Anda bisa membuktikannya sendiri reliefnya naik turun.

Kondisi tol layang itu semuanya memang sudah dilapis aspal. Namun sambungan logam antarruas, masih membuat mobil terasa limbung. Ditambah konturnya memang tak rata. Maklum, Japek elevated II masih belum sempurna pengerjaannya. Konon terus diperbaiki. Saat mobil dipacu pada kecepatan 60 km/jam hingga 70 km/jam, ayunan suspensi betul-betul sangat terasa.

Apalagi bila Anda terbawa euforia ingin merasakan jalan baru dan memacu kencang. Dijamin perut terkocak dan terasa sangat mual. Waspadai pula embusan angin yang terasa kencang. Dan sayangnya sangat minim rambu lalu lintas kurangi kecepatan. Amat bahaya bila dipacu lebih dari 80 km/jam. Di atas hanya ada penunjuk KM saja. Perlu dipahami juga, Japek elevated hanya diperuntukkan pemudik yang menuju ke Bandung, Cirebon dan ke arah Jawa Tengah.

Jadi, selain mobil wajib prima, kondisi badan juga disiapkan tetap bugar. Sebaiknya jaga jarak empat detik dari mobil di depan. Begini simulasinya. Satu detik pertama digunakan mata untuk melihat kendaraan. Satu detik kedua memberi respons pada otak. Satu detik ketiga, otak menyuruh kaki mengerem atau menekan pedal rem. Dan satu detik terakhir respons rem pada ban mobil. Jadi semakin kencang kecepatan Anda, semakin jauh pula jarak dengan mobil di depan.

“Standarnya, tol elevated ini sudah layak digunakan. Karena prediksi puncak arus mudik terjadi pada 20 Desember. Kemenhub juga sudah berkoordinasi dengan Kakorlantas Polri, untuk menerapkan penindakan hukum tilang elektronik di sini. Kami membatasi kecepatan 60 hingga 80 km/jam dan pengendara supaya hati-hati. Nantinya jajaran Kakorlantas Polri yang mengamati batas kecepatan dengan e-TLE,” terang Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan. (Alx/Tom)