8 Gejala Penyakit Menular Seksual yang Paling Umum Terjadi

thesilent1.com – Penyakit menular seksual ( PMS ) atau infeksi menular seksual (IMS) adalah penyakit yang pada umumnya diperoleh melalui kontak seksual.

Organisme (bakteri, virus atau parasit) yang menjadi penyebab penyakit menular seksual dapat berpindah dari orang ke orang dalam darah, air mani, cairan, vagina dan cairan tubuh lainnya.

Kadang-kadang infeksi ini dapat pula ditularkan secara nonseksual, seperti dari ibu ke bayi selama kehamilan atau persalinan, melalui transfusi darah, dan pemakaian jarum suntik bersama.

Melansir Mayo Clinic, penyakit menular seksual tidak selalu menimbulkan gejala.

Ada kemungkinan bagi seseorang untuk dapat tertular penyakit menular seksual dari orang-orang yang tampak sangat sehat dan bahkan mungkin tidak tahu bahwa mereka terinfeksi.

Seseorang memang mungkin saja dapat hidup dengan infeksi menular seksual selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya.

Padahal penyakit menular seksual masih bisa merusak tubuh meski tidak disertai gejala.

Penyakit menular seksual tanpa gejala yang tidak diobati di antaranya dapat menyebabkan:

  • Meningkatkan risiko infertilitas (kemandulan)
  • Menyebabkan beberapa jenis kanker, seperti kanker serviks dan kanker anus
  • Menular ke pasangan seksual
  • Membahayakan bayi yang baru lahi
  • Nyeri panggul
  • Peradangan mata
  • Artritis atau radang sendi
  • Penyakit jantung
  • Penyakit radang panggul
  • Membuat seseorang lebih rentan tertular HIV

Gejala penyakit menular seksual

Karena sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, penyakit menular seksual membuat banyak orang lengah.

Solusinya, waspadai setiap perubahan fisik yang terjadi, tidak peduli seberapa kecil kelihatannya. Jika menemukannya, carilah bantuan dokter untuk memahami penyebabnya.

Bicarakan dengan dokter jika Anda mengalami kondisi yang dicurigai sebagai gejala penyakit menular seksual .

Dokter dapat mengobati kondisi Anda atau memberi Anda obat untuk mengurangi gejala atau masalah yang mungkin Anda alami.

Dokter juga dapat menasihati Anda tentang cara mengurangi risiko tertular infeksi menular seksual di masa mendatang.

Dilansir Health Line, gejala infeksi menular seksual dapat berkisar dari ringan hingga berat.

Beberapa gejala penyakit menular seksual yang paling umum terjadi di antaranya yakni:

1. Perubahan rasa saat kencing

Rasa terbakar atau nyeri saat kencing bisa menjadi gejala dari beberapa kondisi medis.

Misalnya, kondisi itu bisa terjadi karena adanya infeksi saluran kemih atau batu ginjal.

Untuk memastikan penyebabnya, penting untuk melakukan tes jika Anda mengalami rasa sakit atau gejala lain saat buang air kecil.

Penyakit menular seksual yang dapat menyebabkan rasa terbakar atau nyeri saat kecil di antaranya, yakni:

  • Klamidia
  • Gonorea
  • Trikomoniasis
  • Herpes genital

Sebaiknya jangan ragu untuk segera berbicara dengan dokter jika Anda melihat ada perubahan rasa saat kencing.

Anda juga perlu berbicara dengan dokter jika memperhatikan warna urine Anda berubah kemerahan atau dicurigai adanya darah.

2. Keluarnya cairan yang tidak biasa dari penis

Keluarnya cairan yang tidak biasa dari penis tidak pasti menjadi gejala PMS . Di mana, kondisi itu bisa juga menjadi tanda adanya infeksi atau kondisi lainnya.

Meski demikian, penting untuk melaporkan gejala ini ke dokter sesegera mungkin untuk didiagnosis.

Penyakit menular seksual yang dapat menyebabkan keluarnya cairan tidak biasa dari penis di antaranya, yakni:

  • Klamidia
  • Gonorea
  • Trikomoniasis

Diagnosis penyakit menular seksual ini dapat diobati dengan antibiotik. Ketika menjalani pengobatan tersebut, penting untuk minum obat persis seperti yang ditentukan dokter.

Anda harus menemui dokter jika gejala Anda tidak membaik atau jika keluhan kembali muncul.

Anda mungkin tertular PMS lagi melalui kontak dengan pasangan Anda, terutama jika mereka tidak diobati pada saat yang sama seperti Anda.

Ketika hal itu terjadi,Anda mungkin juga memerlukan antibiotik atau pengobatan yang berbeda.

3. Keputihan atau pendarahan yang tidak normal dari vagina

Keputihan yang tidak normal dapat menjadi gejala dari sejumlah kondisi. Tidak semua ini ditularkan secara seksual.

Infeksi terkait seksual seperti vaginosis bakteri juga dapat menyebabkan keputihan tidak normal.

Jika Anda mengalami perubahan pada keputihan Anda, jangan ragu untuk mengonsultasikannya dengan dokter.

Beberapa keputihan normal terjadi sepanjang siklus menstruasi. Namun, seharusnya tidak berwarna aneh atau berbau tidak enak.

Keputihan yang berwarna aneh atau berbau menyengat bisa menjadi gejala IMS .

Misalnya, keputihan yang terjadi akibat trikomoniasis sering kali berwarna hijau, berbusa, dan berbau busuk.

Sedangkan keputihan yang terjadi akibat gonore mungkin berwarna kuning dan diwarnai dengan darah.

Jika Anda mengalami pendarahan di antara siklus haid yang dikombinasikan dengan keluarnya cairan, buatlah janji dengan dokter. Gejala-gejala ini juga bisa menjadi tanda kanker.

4. Rasa terbakar atau gatal di area vagina

Penyakit menular seksual tidak selalu menjadi penyebab rasa terbakar atau gatal di area vagina.

Infeksi bakteri atau jamur non-IMS juga dapat menyebabkan rasa terbakar atau gatal pada vagina.

Meski demikian, Anda tetap harus berbicara dengan dokter tentang perubahan sensasi di daerah vagina ini.

Vaginosis bakteri dan kutu kelamin dapat menyebabkan gatal, dan memerlukan pengobatan.

5. Sakit saat berhubungan seks

Nyeri sesekali saat berhubungan seks cukup umum di kalangan wanita. Oleh sebab itu, kondisi ini bisa menjadi salah satu gejala PMS yang paling sering diabaikan.

Jika Anda mengalami rasa sakit saat berhubungan seks, Anda sebaiknya berbicara dengan dokter. Hal ini terutama benar jika rasa sakitnya:

  • Baru terjadi
  • Telah berubah
  • Dimulai dengan pasangan seksual baru
  • Dimulai setelah melakukan perubahan dalam kebiasaan aktivitas seksual

Nyeri saat ejakulasi juga bisa menjadi gejala penyakit menular seksual pada pria.

6. Benjolan atau luka

Munculnya benjolan dan luka mungkin merupakan tanda penyakit menular seksual pertama yang akan terlihat, seperti pada kasus:

  • Herpes genital
  • Infeksi human papillomavirus (HPV)
  • Sifilis
  • Moloskum kontagiosum

Jika Anda memiliki benjolan atau luka aneh pada atau di dekat mulut atau alat kelamin Anda, bicarakan dengan dokter. Anda harus menyebutkan luka ini ke dokter bahkan jika luka ini hilang sebelum kunjungan Anda.

Luka herpes misalnya, biasanya hilang dalam waktu seminggu atau lebih. Namun, herpes masih bisa menular bahkan ketika tidak ada luka.

Hanya karena luka telah sembuh tidak berarti kondisinya telah hilang.

Kondisi seperti herpes adalah kondisi seumur hidup. Setelah Anda mendapatkannya, virus hadir di tubuh Anda setiap saat.

7. Nyeri di daerah panggul atau perut

Nyeri panggul bisa menjadi tanda dari sejumlah kondisi. Jika rasa sakitnya tidak biasa atau intens, sebaiknya diskusikan dengan dokter.

Banyak penyebab nyeri panggul tidak terkait dengan PMS. Namun, salah satu penyebab nyeri panggul yang parah pada wanita adalah penyakit radang panggul (PID) yang bisa terjadi ketika PMS tanpa gejala tidak diobati.

Bakteri naik ke dalam rahim dan perut. Di sana, peradangan dan jaringan parut bisa terjadi. Ini bisa sangat menyakitkan dan bahkan dapat berakibat fatal.

Penyakit radang panggul adalah salah satu penyebab utama infertilitas yang dapat dicegah pada wanita.

8. Gejala nonspesifik

Sama seperti kondisi lainnya, penyakit menular seksual dapat menimbulkan banyak gejala nonspesifik, yaitu gejala yang dapat disebabkan oleh sejumlah penyakit.

Gejala nonspesifik yang dapat terjadi karena PMS dan kondisi terkait meliputi:

  • Badan panas dingin, menggigil
  • Demam
  • Kelelahan
  • Ruam
  • Penurunan berat badan tanpa disengaja

Dengan sendirinya, gejala-gejala ini mungkin tidak menyebabkan dokter Anda mencurigai Anda menderita penyakit menular seksual.

Jika Anda merasa berisiko terkena PMS, beri tahu dokter.

Orang yang paling berisiko tertular penyakit menular seksual

Merangkum Medical News Today, meskipun siapa pun dapat tertular penyakit menular seksual, data menunjukkan bahwa remaja dan pria yang berhubungan seks dengan pria lain (LSL) memiliki risiko terbesar.

Kejadian klamidia dan gonore tertinggi terjadi di antara anak muda berusia 15 hingga 24 tahun, sementara 64 persen pria yang tertular sifilis adalah kelompok Lelaki berhubungan seks dengan lelaki.