4 Rumah Adat Gorontalo yang Masih Ada Hingga Sekarang

thesilent1.com – Gorontalo merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Sulawesi Utara. Provinsi ini merupakan provinsi baru hasil pemekaran. Pada tahun 2000 provinsi ini resmi menjadi provinsi ke-32 di Indonesia. Kota Gorontalo yang sering juga disebut Kota Hulontalo merupakan ibu kota provinsi ini yang memiliki julukan “Kota Serambi Madinah”.

Provinsi Gorontalo mempunyai empat rumah adat yang merupakan ciri khas dari daerah ini. Keempat rumah adat tersebut, yaitu dulohupa yang terletak di kota Gorontalo, bandayo poboide yang terletak di Limboto, ma’lihe atau potiwaluya serta rumah adat Gobel yang terletak di Bone Bolango. Seperti apakah keempat rumah adat tersebut? Info lengkapnya ada di sini. Yuk, simak!

1. Rumah Bantayo Poboide

Bantayo artinya gedung atau bangunan dan poboide artinya tempat bermusyawarah. Bila keduanya digabungkan maka artinya adalah bangunan yang dipakai sebagai tempat untuk bermusyawarah. Seperti namanya, rumah adat Gorontalo ini berfungsi sebagai tempat masyarakat bermusyawarah.

Bisa juga dikatakan sebagai rumah tempat masyarakat berkumpul saat mereka ingin bermusyawarah. Tak hanya menjadi tempat untuk musyawarah, bangunan tradisional ini juga mempunya fungsi lainnya. Rumah adat bantayo poboide salah satunya ada di depan kantor bupati Gorontalo di kota Limboto.

Rumah adat ini juga dipakai saat ada upacara pernikahan, upacara adat, penerimaan tamu kenegaraan, serta acara lainnya. Rumah adat Gorontalo ini dibangun memakai material dari kayu hitam juga kayu cokelat kemerahan.

Kedua jenis kayu ini dipercaya mempunyai daya tahan yang kuat jadi cocok untuk dipilih sebagai material bangunan. Kayu yang berwarna cokelat kemerahan mempunyai serat lurus. Kayu ini terlihat mendominasi keseluruhan bangunan.

Kayu yang berwarna hitam digunakan sebagai kusen, pagar balkon, dan pegangan tangga. Selain itu, dipakai juga untuk ukiran lubang angin. Motif ukiran halus yang terdapat di lubang angin yang berada di atas pintu adalah tumbuhan serta bunga yang berlubang-lubang.

Dinding, jendela, daun pintu, serta lantai dibuat menggunakan kayu cokelat kemerahan dan dipernis tipis. Di depan bangunan terdapat dua buah tangga yang relatif lebar dengan posisi simetris. Kedua tangga tersebut mengapit balkon yang adalah bagian serambi depan.

Di bagian sayap kanan juga kiri ada ruang terbuka yang posisinya lebih rendah dibandingkan dengan bagian panggung bangunan utama. Namun, kedua ruangan itu letaknya tetap lebih tinggi dibandingkan permukaan tanah.

Ruangan itu adalah aula terbuka untuk serambi kiri dan kanan bangunan utama. Tangga yang berjumlah dua tersebut masing-masing berada di sayap kanan dan kiri yang menghubungkan kedua serambi bangunan utama.

Jadi, orang dapat keluar tanpa harus melalui tangga utama yang berada depan bangunan. Mereka bisa keluar dari serambi kiri atau kanan menuju aula terbuka yang berada di sayap bangunan utama.

Rumah adat bantayo poboide keseluruhan bangunannya terbagi menjadi lima bagian, yaitu:

    Serambi depan atau luar.

    Ruang tamu adalah ruangan yang bentuknya memanjang dan mempunyai sebuah kamar di masing-masing ujung kiri dan kanannya.

    Ruang tengah adalah ruangan yang terluas di antara kelima ruangan yang lain. Di ruang tengah terdapat dua buah kamar yang posisinya berada di sisi kiri ruangan.

    Ruang dalam mempunyai luas juga bentuk yang sama seperti ruang tamu. Di masing-masing ujung kanan serta kiri ruangan terdapat dua buah kamar. Selain memiliki pintu di tiap kamar, pada bagian dalamnya juga memiliki pintu yang menuju ke serambi samping.

    Ruang belakang adalah ruangan untuk dapur, kamar mandi, juga kamar-kamar kecil. Berbeda dari ruangan lainnya, kamar-kamar yang berada di ruang belakang ini posisinya berderet memanjang. Terdapat sebuah pintu keluar yang menuju serambi samping di tiap-tiap ujung kiri dan kanannya.

2. Rumah Dulohupa

Rumah adat Gorontalo yang satu ini masih dapat ditemukan di Kelurahan Limba yang berada di Kota Selatan, Gorontalo. Yiladia dulohupa lo ulipu hulondhalo merupakan julukan untuk rumah adat ini yang diberikan oleh masyarakat Gorontalo.

Bentuk rumah adat ini berupa rumah panggung. Tujuan dibuat seperti ini adalah untuk menghindari banjir. Keunikan rumah ini yaitu, tiap bagian-bagian rumah menggambarkan tubuh manusia.

Di bagian atap merupakan simbol kepala, sedangkan badan rumah merupakan simbol badan. Adapun tiang penyangga merupakan simbol dari kaki manusia. Atap rumah memiliki bentuk pelana atau berbentuk segitiga bersusun dua. Bahannya adalah susunan jerami.

Susunan atap yang pertama menggambarkan bahwa masyarakat Gorontalo percaya kepada Tuhan. Sementara susunan atap yang kedua merupakan gambaran dari kepercayaan masyarakat pada adat istiadat yang berlaku.

Dulu pada bagian puncak atap pernah dipasang talapua atau kayu bersilang. Fungsi dari kayu tersebut yaitu untuk menangkal energi jahat. Namun sekarang ini talapua sudah tak dipasang lagi karena kebanyakan masyarakat Gorontalo sudah beragama Islam.

Selain itu, di bagian badan rumah atau bagian ruang tengah tidak memiliki sekat yang terlalu banyak sehingga ruangannya lebih seperti ruang terbuka. Rumah adat Gorontalo ini mempunyai pilar atau tiang penyangga yang terdiri dari tiga jenis, yaitu pilar utama, depan, dan dasar.

Pilar utama dinamakan wolihi. Ini adalah tiang yang dipasang memanjang dari tanah sampai rangka atap. Pilar ini memiliki simbol kesatuan, yaitu antara Kerajaan Gorontalo dengan Limboto. Selanjutnya yaitu pilar depan yang dipasang memanjang dari tanah sampai rangka atap seperti di pilar utama.

Yang membedakan adalah jumlah pilarnya yang terdiri dari enam buah. Ini melambangkan sifat atau juga ciri utama dari masyarakat Gorontalo. Pilar yang terakhir yakni pilar dasar jumlahnya sampai 32 buah dan pilar ini adalah lambang 32 arah mata angin.

Umumnya rumah adat dulohupa mempunyai anak tangga yang berjumlah lima atau tujuh buah. Jumlah itu ada makna filosofinya, yaitu 5 anak tangga adalah lambang dari rukun Islam serta 5 filosofi orang Gorontalo. Sedangkan tujuh anak tangga adalah lambang tingkatan hawa nafsu manusia.