11 Gejala Kekurangan Protein yang Perlu Diwaspadai

thesilent1.com – Gejala kekurangan protein perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan lebih lanjut.

Protein adalah nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh.

Merangkum Medical News Today, protein di antaranya berperan dalam pembentukan sel darah merah, memelihara jaringan tubuh, pengatur metabolisme tubuh, mendukung proses pertumbuhan bagi anak-anak, hingga pembentukan sistem imun.

Asupan protein juga dapat membantu menurunkan berat badan dan lemak perut sambil meningkatkan massa dan kekuatan otot.

Tak hanya itu, diet tinggi protein diyakini bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi), melawan diabetes, dan lainnya.

Karena banyak makanan mengandung nutrisi ini, kekurangan protein sebenarnya jarang terjadi. Tetapi tetap saja, risiko itu ada.

Kekurangan protein lebih mungkin terjadi di negara berkembang karena rendahnya asupan makanan yang mengandung nutrisi ini.

Bentuk kekurangan protein yang paling parah dikenal sebagai kwashiorkor. Masalah gizi ini paling sering terjadi pada anak-anak di negara berkembang di mana kelaparan dan pola makan tidak seimbang biasa terjadi.

Kekurangan protein bisa memengaruhi hampir semua aspek fungsi tubuh. Akibatnya, hal itu dikaitkan dengan banyak gejala.

Berikut ini adalah beberapa kondisi yang bisa menjadi gejala kekurangan protein untuk diwaspadai:

1. Perubahan suasana hati

Dilansir dari WebMD, perubahan suasana hati bisa dicurigai sebagai tanda atau gejala kekurangan protein.

Ini karena otak manusia memerlukan bahan kimia yang disebut neurotransmiter untuk menyampaikan informasi antarsel.

Nah, banyak dari neurotransmiter ini terbuat dari asam amino yang merupakan bahan penyusun protein.

Jadi kekurangan protein dalam makanan Anda bisa berarti tubuh Anda tidak dapat membuat cukup neurotransmiter.

Kondisi ini pun dapat mengubah cara kerja otak Anda.

Dengan tingkat dopamin dan serotonin yang rendah misalnya, Anda mungkin akan merasa tertekan atau terlalu agresif.

2. Kelemahan dan rasa lelah

Penelitian menunjukkan bahwa hanya seminggu tidak makan cukup protein dapat memengaruhi otot yang bertanggung jawab atas postur dan gerakan Anda, terutama jika Anda berusia 55 tahun atau lebih.

Seiring waktu, kekurangan protein dapat membuat Anda kehilangan massa otot yang pada gilirannya mengurangi kekuatan Anda, mempersulit keseimbangan, dan memperlambat metabolisme Anda.

Kekurangan protein juga dapat menyebabkan anemia, ketika sel-sel Anda tidak mendapatkan cukup oksigen yang membuat Anda lelah.

3. Penyembuhan luka dan cedera lambat

Orang yang mengalami kekurangan protein mungkin akan mengalami masalah penyembuhan luka dan cedera yang lambat

Hal ini tentu tidak mengherankan, karena protein dibutuhkan untuk memperbaiki jaringan yang rusak dan membentuk jaringan baru.

4. Edema

Edema adalah kondisi pembengkakan akibat penumpukan cairan pada jaringan tubuh.

Dilansir dari Health Line, edema bisa menjadi gejala kekurangan protein yang parah (kwashiorkor).

Edema salah satunya bisa terjadi karena jumlah albumin serum dalam tubuh rendah atau sedikit.

Albumin merupakan protein paling melimpah di bagian cairan darah atau plasma darah.

Salah satu fungsi utama albumin adalah untuk mempertahankan tekanan onkotik, yakni kekuatan yang menarik cairan ke dalam sirkulasi darah.

Dengan cara ini, albumin mencegah jumlah cairan yang berlebihan menumpuk di jaringan atau kompartemen tubuh lainnya.

Karena kadar albumin serum manusia berkurang, defisiensi protein yang parah bisa menyebabkan tekanan onkotik yang lebih rendah. Akibatnya, cairan menumpuk di jaringan sehingga menyebabkan pembengkakan.

Untuk alasan yang sama, kekurangan protein dapat menyebabkan penumpukan cairan di dalam rongga perut. Perut tampak buncit adalah ciri khas dai kwashiorkor.

Perlu diingat bahwa edema adalah gejala kekurangan protein yang parah. Jadi jangan ragu untuk berbicara dengan dokter jika Anda mengalami edema.

5. Perlemakan hati

Gejala umum kwashiorkor lainnya adalah perlemakan hati (fatty liver) atau penumpukan lemak di sel hati.

Jika tidak diobati, perlemakan hati dapat berkembang menjadi penyakit perlemakan hati, menyebabkan peradangan, jaringan parut hati, dan memicu terjadinya gagal hati.

Perlemakan hati adalah kondisi umum pada orang gemuk, serta mereka yang banyak mengonsumsi alkohol.

Mengapa hal itu terjadi dalam kasus kekurangan protein tidak jelas. Tetapi penelitian telah menunjukkan bahwa gangguan sintesis protein pengangkut lemak yang dikenal sebagai lipoprotein dapat berkontribusi pada kondisi tersebut.

6. Masalah kulit, rambut, dan kuku

Kekurangan protein sering kali dapat meninggalkan bekas pada kulit, rambut, dan kuku.

Seperti diketahui, kulit, rambut, dan kuku merupakan bagian tubuh yang sebagian besarnya terbuat dari protein.

Misalnya, kwashiorkor pada anak-anak bisa dideteksi dengan adanya kulit yang terkelupas atau pecah-pecah, kemerahan, dan bercak kulit yang rusak.

Rambut menipis, warna rambut pudar, rambut rontok (alopecia) dan kuku rapuh juga bisa menjadi gejala kwashiorkor.

Ingatlah bahwa kwashiorkor adalah kekurangan protein yang parah.

Jadi, masalah kulit, rambut, dan kuku tidak mungkin muncul kecuali Anda mengalami kekurangan protein yang parah.

7. Kehilangan massa otot

Otot Anda adalah sumber protein terbesar di tubuh Anda.

Ketika tidak tersedia asupan protein dari makanan, tubuh akan mengambil protein dari otot rangka untuk memelihara jaringan dan fungsi tubuh yang lebih penting. Akibatnya, kekurangan protein bisa menyebabkan pemborosan otot seiring waktu.

Bahkan kekurangan protein sedang dapat menyebabkan pengecilan otot, terutama pada orang tua.

Sebuah studi pada pria dan wanita lanjut usia (lansia) menemukan bahwa kehilangan otot lebih besar di antara mereka yang mengonsumsi protein dalam jumlah terendah.

Hal ini telah dikonfirmasi oleh penelitian lain yang menunjukkan bahwa peningkatan asupan protein dapat memperlambat degenerasi otot akibat usia tua.

8. Memiliki risiko fraktur tulang yang lebih besar

Otot bukan satu-satunya jaringan yang dipengaruhi oleh asupan protein yang rendah.

Tulang Anda juga berisiko.

Tidak mengonsumsi cukup protein dilaporkan dapat melemahkan tulang Anda dan meningkatkan risiko patah tulang.

Sebuah studi pada wanita pascamenopause menemukan bahwa asupan protein yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko patah tulang pinggul yang lebih rendah. Asupan tertinggi dikaitkan dengan penurunan risiko 69 persen, dan protein hewani tampaknya memiliki manfaat terbesar.

Studi lain pada wanita pascamenopause dengan patah tulang pinggul baru-baru ini menunjukkan bahwa mengonsumsi 20 gram suplemen protein per hari selama setengah tahun memperlambat pengeroposan tulang sebesar 2,3 persen..

9. Pertumbuhan anak terhambat

Protein tidak hanya membantu mempertahankan massa otot dan tulang, tetapi juga penting untuk pertumbuhan tubuh.

Dengan demikian, kekurangan protein bisa sangat berbahaya bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Faktanya, stunting adalah tanda paling umum dari malnutrisi pada masa kanak-kanak.

Beberapa studi telah menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara asupan protein rendah dan gangguan pertumbuhan.

10. Rentan terkena infeksi

Kekurangan protein juga dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terkena infeksi.

Rentang terkena infeksi dan keparahan infeksi bisa menjadi gejala kekurangan protein yang parah.

Asupan protein yang sedikit saja bahkan dapat merusak fungsi kekebalan.

Sebuah penelitian kecil pada wanita lansia menunjukkan bahwa menjalani diet rendah protein selama sembilan minggu secara signifikan dapat mengurangi respons kekebalan mereka.

11. Nafsu makan dan asupan kalori lebih besar

Ketika asupan protein Anda tidak tercukupi, tubuh Anda akan mencoba memulihkan status protein Anda dengan meningkatkan nafsu makan, mendorong Anda untuk mencari sesuatu untuk dimakan.

Jika dorongan makan ini membawa Anda untuk mengonsumsi makanan yang mengandung protein tinggi, hal itu tentu baik.

Sayangnya dunia modern saat ini menawarkan akses tak terbatas para orang-orang ke makanan gurih dan berkalori tinggi.

Banyak dari makanan cepat saji mungkin mengandung beberapa protein. Namun, jumlah protein dalam makanan ini sering kali jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah kalori yang mereka sediakan.

Akibatnya, asupan protein yang buruk dapat menyebabkan penambahan berat badan dan obesitas.

Jika Anda merasa lapar sepanjang waktu dan kesulitan menjaga asupan kalori, coba tambahkan protein tanpa lemak ke setiap makanan.