10 Tarian Adat Betawi yang Jadi Bukti Akulturasi Budaya

thesilent1.com – Jakarta merupakan ibukota negara Indonesia serta pusat pemerintahan. Selain itu, kota metropolitan ini juga mempunyai nilai adat dan budaya yang khas dan unik. Salah satunya adalah budaya dari suku yang mendiami kota ini, yaitu suku Betawi. Orang Betawi memiliki beragam jenis tradisi dan budayanya yang sebagian merupakan hasil percampuran dari budaya lain.

Keberagaman budaya itu tak lepas dari sejarah masyarakatnya yang campuran berbagai suku yang ada di Batavia saat itu. Karena itu, akulturasi terasa sekali mewarnai berbagai aspek kehidupan dari masyarakat Betawi. Terdapat unsur budaya Arab, Melayu, Portugis juga Cina dalam budayanya, termasuk tarian. Berikut ini adalah jenis tarian adat Betawi yang merupakan hasil perpaduan budaya.

1. Tari Yapong

Tarian adat Betawi ini disebut dengan yapong. Ini adalah jenis tarian kontemporer yang menggambarkan pergaulan masyarakat serta sukacita. Biasanya tari ini dibawakan pada acara atau pesta rakyat di DKI Jakarta.

Berdasarkan sejarahnya, tarian asal Betawi ini sudah ada sejak tahun 1977 saat kota Jakarta berulang tahun yang ke-450. Ketika itu tema yang diusung yaitu mengenai perjuangan Pangeran Jayakarta dan seniman besar Bagong Kussudiarjo dipercaya pada untuk mengadakan acara itu.

Tari yapong menampilkan adegan sendratari yang para penarinya akan menari dengan riang sambil menyambut datangnya Pangeran Jayakarta. Yapong sendiri namanya diambil dari lagu yang mengiringi para penari yang terdengar seperti suara “ya, ya, ya”.

Sementara itu iringan musiknya terdengar seperti “pong, pong, pong”. Orang-orang berpendapat tarian ini menarik sekali sehingga sekarang ini tari yapong semakin banyak dikenal.

2. Tari Zapin Betawi

Asal kata Zafin yang dibaca Zapin dari bahasa Arab yakni zafanan atau zafana berarti mendadak. Arti lainnya yaitu menari. Berasal dari bangsa arab tarian ini dalam perkembangannya terpengaruh oleh tarian Melayu.

Tari zapin fokusnya ada pada gerakan kaki yang memiliki empat pola yakni pola lantai pokok, pola lantai putaran, pola lantai konde, serta pola tiga. Pada awalnya tarian adat betawi ini dikategorikan sebagai tari pergaulan, tetapi kemudian berganti fungsi menjadi tari pertunjukan.

Sehingga sekarang tarian ini sering dibawakan dalam acara peringatan perkawinan, khitanan, Hari Maulid Nabi dan hari-hari khusus lainnya. Bentuk pementasan dari tarian ini dikenal dengan sebutan Malias, yaitu penari secara berkelompok membuat bentuk setengah lingkaran atau lingkaran.

Bagian tengah yang kosong dipakai sebagai arena pentas. Tari zapin juga memakai jenis panggung balandongan, yaitu panggung buatan semacam proscenium.

3. Tari Topeng Betawi

Tari topeng Betawi merupakan seni gabungan dari nyanyian seni drama, serta tarian. Jika dilihat lebih lanjut, tarian ini terlihat seperti pertunjukan teater, tapi nuansanya berupa tarian.

Dahulu tari topeng ini merupakan salah satu pertunjukan teater tradisional, tetapi di dalamnya diselipkan unsur seni tari sehingga akhirnya berubah menjadi seperti sekarang. Tarian ini juga telah diakui di mancanegara.

Tarian ini dapat dilihat di upacara pernikahan serta khitanan yang bernuansa tradisional. Sayangnya, sudah jarang tarian ini dibawakan di acara-acara tersebut karena tergilas oleh budaya modern.

Mungkin sebagian orang bertanya-tanya, mengapa topengnya tidak jatuh ketika penari membawakan tari topeng. Itu karena topeng tersebut dibuat dari kayu sehingga untuk membuatnya tidak terjatuh, penari akan menggigit topeng tersebut.

Alat musik yang untuk mengiringi tari topeng ini yaitu kecrek, rebab, gong buyung, kempul, gendang besar, kulanter, dan kromong tiga. Sementara kostum yang digunakannya tetap kostum adat Betawi meskipun bukan kostum khusus tari topeng.

4. Tari Nandak Ganjen

Tari nandak ganjen diciptakan pada tahun 2000 oleh Sukirman atau lebih dikenal dengan sebutan Entong Kisam sebagai tari kreasi baru dari Betawi. Inspirasi tari ini berasal dari pantun lama Betawi.

Nandak dalam bahasa Betawi artinya menari, sementara ganjen artinya centil atau genit yang maknanya sikap menggoda. Tari nanjak ganjen menceritakan tentang anak gadis yang baru menjadi “anak baru gede” atau mulai memasuki fase kehidupan dewasa.

Pada masanya peralihan dari usia anak ABG menuju dewasa muncul beragam sifat, mulai dari keceriaan, ingin melakukan apa pun yang diinginkan, tanpa perlu bertanya terlebih dulu karena mereka merasa sudah dewasa.

Kostum penari tari nandak ganjen mirip dengan pakaian untuk penari topeng Betawi. Hal itu karena tarian ini adalah turunan dari tari topeng. Pakaian yang dikenakan mulai dari kebaya dengan pola tiga warna, yaitu kuning, hijau, dan merah.

Selain itu ada toka-toka penutup dada yang seperti kain disilangkan dan ada juga kain “ampreng” yang digunakan untuk menutup bagian perut hingga bawah lutut. Tambahan lainnya yaitu ikat pinggang “pending” dengan warna emas serta selendang yang diikatkan pada pinggang.

Untuk rambut akan di konde dan dilengkapi dengan hiasan kepala berupa sumpit dengan warna emas yang merupakan hasil dari akulturasi budaya antara Tionghoa dengan Betawi.